Featured Posts

thumbnail

Meta Tags SEO Friendly untuk Pengoptimalan Mesin Pencari Blogger

Meta Tags SEO Friendly
Cara Memasang Meta Tags SEO Friendly untuk Pengoptimalan Mesin Pencari di Template Blogger

Meta Tags SEO Friendly berikut ini untuk Pengoptimalan Mesin Pencari bagi Blogger yang menggunakan template blog bawaan blogger.

Jika Anda menggunakan template SEO Friendly, apalagi template premium, biasanya meta tags-nya sudah dioptimalkan, tak perlu diubah lagi.

Berikut ini Meta Tags sederhana, namun SEO Friendly atau membuat blog Anda akan lebih mudah dan cepat terindeks Google, sehingga blog Anda banyak pengunjung karena tampil di halaman satu.

Cara Memasang Meta Tags SEO Friendly di Blogger

1. Di Dashboard blog Anda, klik "Theme" > Klik "Edit HTML"
2. Di bagian atas kode, tepatnya di bawah kode    

<b:include data='blog' name='all-head-content'/>

ada kode ini:

<title><data:blog.pageTitle/>

3. Nah, hapus dan ganti kode tersebut dengan kode berikut ini:

    <b:if cond='data:blog.pageType == &quot;index&quot;'>
<title><data:blog.pageTitle/> ~ Deskripsi Singkat Blog Anda </title>
<b:else/>
<b:if cond='data:blog.pageType != &quot;error_page&quot;'>
<title><data:blog.pageName/> ~ <data:blog.title/></title>
<b:else/>
<title>404 ~ Page Not Found!</title>
</b:if>
</b:if>
<b:if cond='data:blog.homepageUrl == data:blog.url'><meta expr:content='data:blog.title' name='keywords'/></b:if>  
<b:if cond='data:blog.pageType == &quot;item&quot;'><meta expr:content='data:blog.pageName' name='keywords'/></b:if>
<b:if cond='data:blog.postImageUrl'>
<meta expr:content='data:blog.postImageUrl' property='og:image'/>
<b:else/>
<meta content='https://3.bp.blogspot.com/-H5Mp_-GswLY/WLAmXs-KOhI/AAAAAAAAc2M/YuNKn9hSvc0UT9mHu3nZNIilleyq_EfAwCLcB/s320/contoh-blog-seo-keren.JPG' property='og:image'/>
</b:if>
<meta content='APP_ID_FACEBOOK_ANDA' property='fb:app_id'/>

4. Save!

Demikian Meta Tags SEO Friendly untuk Pengoptimalan Mesin Pencari di Template Blogger. Tidak usah "lebay" dengan bangak sekali kode meta tags.

Cukup pasang meta tag seo friendly yang di atas, ditambah Pedoman Webmaster Google, dan fokus ke konten berkualiats sebagaimana Panduan Konten Google. Wasalam. (www.komunikasipraktis.com).*

Komunikasi Praktis Updated at: Thursday, March 02, 2017
thumbnail

Mayoritas Situs Berita (Media Online) Langgar Kaidah Jurnalistik

Mayoritas Situs Berita (Media Online) Langgar Kaidah Jurnalistik
Mayoritas Media Online atau Situs Berita melanggar kaidah jurnalistik. Dari sekitar 2000 media online, hanya sektar 211 media yang pemberitaanya sesuai dengan kaidah jurnalistik dan layak sebagai perusahaan pers.

Demikian dikemukakan anggota Dewan Pers, Yosep Stanley Adi Prasetyo, Rabu (20/1/2016).

"Saat ini ada sekitar 2.000 media online. Tetapi yang sesuai dengan kaidah jurnalistik dan mempunyai kelayakan sebagai perusahaan hanya sekitar 211 media," katanya dikutip detik.com.

Dikemukakan, di zaman Orba, SIUP sebanyak 180 saja. Menjelang pemilu 1999 berkembang menjadi 1.600 media. "Setelah pemilu berguguran. Kini hanya sekitar ada 900 media yang bertahan hidup," ujarnya.

Namun, suburnya media baru, juga membuka persoalan baru. "Penerapan etika jurnalistik dan independensi media dalam pemberitaan menjadi perhatian," tegasnya.

Dewan Pers mengimbau agar mereka yang mengaku media memenuhi standar kaidah jurnalistik. Dewan Pers juga mencatat, media yang memenuhi syarat perusahaan di Indonesia berjumlah 1.771.

Data yang dikemukakan Dewan Pers di atas harus menjadi catatan manajemen dan wartawan media online. Pengabaian kaidah jurnalistik akan menjadi bumerang bagi media sendiri, antara lain hilangnya kepercayaan publik dan ketiadaan kredibilitas.

Media massa yang tidak mendapatkan kepercayaan dan tidak kredibel, lambat-laun akan ditinggalkan pembaca dan gulung tikar.

Diabaikannya kaidah jurnalistik oleh mayoritas media online kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

1. Minim Skills dan Wawasan Jurnalistik

Minimnya pengetahuan dan keterampilan wartawan atau pengelola tentang jurnalistik menjadi faktor utama dibaiakannya kaidah jurnalistik dalam pemberitaan.

2. Perubahan Misi Media: Media Jurnalistik ke Media Propaganda

Jika faktor pertama gugur, artinya manajemen dan wartawan memiliki pengetahuan dan keterampilan mumpuni tentang jurnalisme, maka faktor kedua inilah yang menyebabkan diabaikannya kaidah jurnalistik, yakni perubahan misi dan fungsi media dari media jurnalistik menjadi media propaganda.

Perubahan fungsi itu akan membuat pemberitaan bukan lagi sekadar memberikan informasi (to inform), tapi juga menggiring opini dan memengaruhi (to influence).

Akibat perubahan misi ini, pemberitaan media tidak lagi berimbang (balance) atau meliput dua pihak secara berimbang (covering both side), bahkan banyak melakukan framing.

Perubahan fungsi media dari jurnalistik ke propaganda disebabkan dikendalikannya media oleh rezim, kelompok kepentingan, atau kekuatan politik tertentu, sehingga media menjadi corong propaganda, bukan lagi media jurnalisme yang memihak kepada publik.

Kaidah jurnalistik jurnalistik juga sering diabaikan akibat penulisan berita yang bertujuan mendapatkan klik, trafik, atau pageviews situs --dikenal dengan jurnalisme umpan klik (clickbait journalism) yang kini identik dengan jurnalistik online dan membahayakan masa depan jurnalisme.

Pengertian Kaidah Jurnalistik

Kaidah jurnalistik adalah teknik dan kode etik jurnalistik, seperti formula penulisan berita 5W+1H plus formula piramida terbalik dan bahasa jurnalistik, serta etika penulisan berita seperti berimbang, faktual, dan akurat.

Kaidah jurnalistik tercantum dalam Kode Etik Jurnalistik, Pedoman Pemberitaan Media Siber, juga dijelaskan dalam Elemen Jurnalisme.

Contoh kaidah jurnalistik antara lain formulasi  Accuracy, Balance, Clarity (ABC) dalam penulisan atau penyajian berita:
  • Accuracy (Akurasi): faktual, bukan informasi bohong (hoax), cek dan ricek terhadap data yang diperoleh, dan data yang dipublikasikan dapat dipertanggungjawabkan.
  • Balance (Keseimbangan): tidak berat sebelah atau hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. 
  • Clarity (Kejelasan): mudah dimengerti, tidak menimbulkan pengertian atau persepsi ganda, serta lugas sebagaimana prinsip bahasa jurnalistik atau bahasa media/bahasa pers.

Verifikasi media dan barcode yang diterapkan kepada media oleh Dewan Pers, mestinya diikuti oleh peningkatan kualitas wartawan. Media penganjut jurnalisme umpan klik dan media yang cenderung menjadi alat propaganda, mestinya tidak lolos verifikasi sebagai media pers. Wasalam. (www.komunikasipraktis.com).*

Komunikasi Praktis Updated at: Tuesday, February 07, 2017
thumbnail

Tips Agar Posting Blog Cepat Diindeks Google dan Banyak Pengunjung

google seo blog
Tips Agar Posting Blog Cepat Diindeks Google dan Banyak Pengunjung.

TIPS & trik SEO agar blog dan semua postingnya mudah dan cepat terindex oleh mesin pencari Google ini didasarkan pada tips seo dari Google sendiri.

Artinya, 'Si Mbah' sendiri yang memberi sarannya dan harus kita lakukan.

Jika blog tidak terindeks, maka tidak akan muncul di halaman hasil pencarian dan tidak akan ada pengunjung ke blog kita, kecuali kita gencar mempromosikan blog kita di media sosial atau beriklan di blog lain.


Tips Agar Posting Blog Cepat Diindeks Google

Berikut ini dua cara agar blog dan posting blog kita cepat terindeks Google.

1. Daftarkan blog dan posting blog kita ke Webmaster Tools Submit URL

Setiap kali selesai posting, langsung submit atau daftarkan link artikel, tulisan, atau postingan kita ke link tersebut.

2. Daftarkan ke Fetch as Google.

Jika kita sudah daftarkan blog ke Webmaster Tools, maka otomatis menu Fetch as Google akan ada di sidebar kini. Tinggal klik dan daftarkan blog serta link posting kita di sana, biar posting blog cepat terindeks Google.

Jika belum daftar, maka klik menu "Add a property now" yang artinya kita mendaptarkan blog kita ke Google. Ini akan kian memberi peluang bagi posting blog untuk mudah dan cepat terindeks Google yang akhirnya mendatangkan pengunjung.

3. Link Internal & Eksternal.

Pastikan posting blog Anda memiliki minimal satu link internal (tautan ke posting lain yang setema) dan satu link eksternal. Jangan ragu dan pelit ngelink ke website terkenal karena blog kita akan ikut "nebeng" terkenal nantinya.

Silakan perhatikan cara Menulis Artikel SEO Friendly ala Wikipedia yang begitu banyak linknya, internal ataupun eksternal.

Itu dia cara atau tips Tips Agar Posting Blog Cepat Diindeks Google.

Sebenarnya, jika postingan kita unik, asli, lengkap, dan belum ada di blog lain, maka akan otomatis mudah dan cepat diindeks Google, meskipun Si Mbah juga suka "kecolongan" dengan menampilkan postingan copas di halaman depan hasil pencarian (SERP).

Tips SEO blog selengkapnya agar posting blog cepat terindeks Google bisa disimak di dua link referensi di bawah ini.

Demikian Tips Agar Posting Blog Cepat Diindeks Google. Semoga bermanfaat. Wasalam (www.komunikasipraktis.com).*

Komunikasi Praktis Updated at: Monday, January 30, 2017
thumbnail

Penyebab Muncul Hoax dan Cara Mengetahuinya

Penyebab Muncul Hoax dan Cara Mengetahuinya
Mengapa Hoax Muncul dan berkembang? Bagaimana Cara Mendeteksi dan Mengetahuinya?

POSTING ini merupakan penyebab munculnya hoax dan cara mengetahui hox ini lanjutan sekaligus melengkapi tulisan sebelumnya tentang pengertian dan asal-usul Hoax.

Menurut laporan Radio Australia, kebohongan di dunia maya itu sudah ditemukan sejak world wide web (www) diciptakan. Kini jejaring sosial atau media sosial, seperti Facebook dan Twitter, membuatnya semakin tersebar dengan pesat.

Peneliti dari Cambridge University, Matt Davis, yang pernah melakukan riset panjang di tahun 1970-an mengatakan, meski merupakan sebuah tipuan, dalam hoax terlihat ada 'unsur kebenaran'.

Penyebab Munculnya Hoax

Hoax dibuat seseorang atau kelompok dengan beragam tujuan, mulai dari sekadar main-main atau having fun, hingga tujuan ekonomi (penipuan), dan politik (progapanda/pembentukan opini publik) atau agitasi (hasutan).

Hoax biasanya muncul ketika sebuah isu mencuat ke permukaan, namun banyak hal yang belum terungkap atau menjadi tanda tanya.

Di Indonesia, hoax marak sejak Pemilihan Presiden 2014 sebagai dampak gencarnya kampanye di media sosial. Hoax bermunculan guna menjatuhkan citra lawan politik alias kampanye hitam ataupun kampanye negatif.

Menurut Dewan Pers, di Indonesia maraknya Hoax juga karena adanya krisis kepercayaan terhadap media mainstream sehingga publik menjatuhkan pilihan ke media abal-abal. 

Menurut Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, seperti diberitakan Berita Lima, hoax merupakan dampai berubahnya fungsi media sosial dari media pertemanan dan berbagi menjadi sarana menyampaikan pendapat politik dan mengomentari pendirian orang lain.

"Pada saat yang sama, masyarakat kehilangan kepercayaan atas netralitas pers dan isi media mainstream, sehingga masyarakat mencari alternatif dari media sosial," katanya.

Hoax Indikator Legitimasi Pemerintah Melemah 

Penyebab lain maraknya hoax adalah karena pemerintah lamban merespons isu yang muncul. Menurut pengamat media dari Universitas Indonesia, Rocky Gerung, reaksi pemerintah menghadapi info palsu malah tidak menyentuh akar persoalan.

Menurutnya, hoax adalah gejala ada sesuatu yang bergejolak dalam opini publik yang tak mampu dikedalikan oleh pemerintah.

"Kalau legitimasi pemerintah kuat, orang tak bakal sebar kabar palsu. Tapi begitu legitimasi melemah, oposisi bakal mengekspoitasi bagustanan itu dengan memproduksi hoax. Berarti sinyal 'hoax' adalah krisis legitimasi di otoritas. Itu yang wajibnya diperbaiki," katanya dikutip BBC Indonesia. 

Ditegaskan, melawan hoax dengan mengontrol info memberi kesan bahwa negara menjadi totaliter dalam urusan opini publik. "Dan itu kurang baik, bahwa negara menjadi penjamin kebenaran."

Mengapa? Sebab dengan cara teoritis, Rocky Gerung menonton pemerintah di tak sedikit negara doyan meperbuat rekayasa info untuk menjaga legitimasinya.


Cara Mendeteksi & Mengetahui Berita 'Hoax'

Dikutip Liputan6 dari CNET, cara mendeteksi berita palsu (hoax) antara lain sebagai berikut:

1. Cross Check Judul Berita Provokatif

Ketika muncul sebuah berita sensasional  atau "menggemparkan", lakukan cek silang dengan mencari berita tersebut di media lain. Jika media lain tidak memberitakannya, maka berita tersebut menjadi "terduga" hoax.

Judl berita hoax umumnya provokatif, sensasional, bombastis, meski banyak juga yang "datar". Lakukan cross check berita itu dengan menggunakan mesin pencari Google untuk memastikan apakah berita itu dipublikasikan juga situs berita lain.

Dari sisi bahasa, berita 'hoax' sering memakai huruf besar (kapital) dan beberapa tanda seru plus menggunakan kata-kata seperti 'Terungkap', 'Wow', ‘Bahaya’, ‘Awas’, ‘Darurat’, dan lain-lain.

Berita hoax seringkali bernada negatif dan TIDAK BERIMBANG, sepihak saja. Sedangkan jurnalistik mewajibkan media atau wartawan menulis berita secara berimbang atau meliput pihak-pihak yang diberitakan (covering both side).

2. Cek URL Situs Web

Ketika berita terduga hoax itu muncul di sebuah situs web (website), baik berupa blog maupun berdomain .com atau Top Level Domain (TLD) lainnya, cek alamat situs web berita itu atau URL-nya. Setelah muncul, pastikan situs tersebut memiliki identitas yang jelas atau baca juga About dan Disclaimernya.

3. Cek Foto / Cek Keaslian Foto

Hoax biasanya berupa foto. Cek foto tersebut dengan cara download atau screenshot foto itu, lalu buka Google Images di browser dan seret (drag) foto itu ke kolom pencarian Google Images tadi. Periksa hasilnya untuk mengetahui sumber dan caption asli dari foto tersebut.

Silakan Anda coba dengan mengecek gambar tentang proses pembuatan dan penyebarluasan Hoax berikut ini (Link Gambar).

cara hoax dibuat
Apakah Infografis tentang Hoax ini juga Hoax? Sumber Gambar: #turnbackhoax


4. Cek Sumber/Ketahui Siapa Penulis Beritanya

Sama sepeti nomor dua, sangat penting mengetahui siapa penulis berita tersebut. Saat ini banyak sekali berita yang dibuat hanya agar menjadi viral di media sosial dan penulisnya kebanjiran uang karena websitenya yang dipasangi iklan tersebut dikunjungi oleh banyak orang.

Jangan lupa pula, saat ini banyak situs berita parodi dan jelas-jelas menyatakan berita yang mereka buat adalah "imaginer" atau parodi, seperti  The Onion dan Weekly World News

Kebanyakan informasi atau berita 'hoax' tanpa menyebutkan sumber, misalnya hanya menuliskan ‘Copas dari grup sebelah...’ atau malah tidak ada penyebutan sumber sama sekali.

Barcode Saja Tidak Cukup

Dewan Pers akan memasang barcode pada media pers sebagai penanda bahwa media tersebut legal atau resmi. Masalahnya, media resmi belum tentu dipercaya masyarakat karena pemberitaan media arus utama justru sering berpihak atau menjadi corong penguasa.

Seperti disebutkan di atas, salah satu penyebab hoax berkembang karena publik kehilangan kepercayaan terhadap media arus utama. Kemunculan situs-situs berita atau blog berita merupakan "penyeimbang" sekaligus bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan media mainstream dalam pemberitaan.

Media mainstream yang menjadi corong penguasa atau kelompok kepentingan tertentu biasa melakukan Framing Berita.

Standardisasi media menggunakan barcode, menurut pegiat media, Christian Ginting, bukan langkah efektif memberantas hoax (berita palsu).

Alih-alih untuk mengatasi hoax yang dianggap banyak diproduksi media abal-abal, penggunaan barcode justru seolah ingin menyingkirkan media alternatif yang selama ini menjadi pembanding media mainstream.

“Seolah barcode menyingkirkan media-media yang tidak dikenal. Kalau tidak dikenal berarti hoax. Padahal tidak begitu,” ujarnya dikutip Hidayatullah.

"Ketika kita mencari informasi yang valid berdasarkan jurnalisme objektif, terutama dari media mainstream, tetapi mereka justru terafiliasi ke politik maupun agenda setting,” paparnya. Wasalam. (www.komunikasipraktis.com).*

Komunikasi Praktis Updated at: Monday, January 30, 2017
thumbnail

Pengertian Literasi Media: Latar Belakang & Ruang Lingkup

Pengertian Literasi Media
Pengertian Literasi Media: Latar Belakang & Ruang Lingkup.

LITERASI media (media literacy) adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Literasi media merupakan studi dan analisis mengenai media.

Literasi media masih belum mendapat perhatian khusus pemerintah, pun lembaga-lembaga kemasyarakatan di Indonesia. Padahal, literasi media sangat penting agar publik cerdas dan kritis dalam menerima informasi yang sangat banjir di era internet kini.

Bahkan, praktisi Komunikasi Massa, Vinsensius Sitepu, menyarankan pemerintah agar lebih menjadikan cerdas bermedia (literasi media) sebagai kurikulum pendidikan nasional ketimbang sibuk melakukan pemblokiran situs-situs atau ‘mengejar’ pelaku penyebar berita bohong (hoax) yang menggejala akhir-akhir ini.

"Harusnya pemerintah menggunakan konsep media literasi sebagai perangkat utama untuk melakukan edukasi kepada masyarakat. Yakni dengan menjadikannya kurikulum pendidikan nasional dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) hingga jenjang perkuliahan," katanya.

Pengertian Literasi Media

Secara bahasa, literasi media artinya "melek media" atau "cerdas bermedia", yaitu kemampuan memahami dunia media massa sehingga kritis dan selektif dalam menerima informasi dari media dan tidak mudah terpengaruh pesan terang-terangan dan terselubung pemberitaan media.

Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar pemirsa sebagai konsumen media (termasuk anak-anak) menjadi sadar (melek) tentang cara media dikonstruksi (dibuat) dan diakses.

Literasi media muncul dan mulai sering dibicarakan karena media seringkali dianggap sebagai sumber kebenaran. 

Pada sisi lain, tidak banyak yang tahu bahwa media memiliki kekuasaan secara intelektual di tengah publik dan menjadi medium untuk pihak yang berkepentingan untuk memonopoli makna yang akan dilempar ke publik. 

Pekerja media bebas untuk merekonstruksikan fakta keras dalam konteks untuk kepentingan publik (pro bono publico) dan merupakan bagian dalam kebebasan pers (freedom of the press). 

Pengertian Literasi Media: Latar Belakang & Ruang Lingkup

Tanggung jawab atas suatu hasil rekonstruksi fakta adalah berada pada tangan jurnalis yang seharusnya "netral" dan tidak dipengaruhi oleh emosi dan pendapatnya akan narasumber dan bukan pada narasumber. (Wikipedia).

Latar Belakang Literasi Media

Literasi media diperlukan agar pembaca, penonton, atau konsumen informasi media menyadari hal-hal sebagaimana dikemukakan Association for Media Literacy (2007):
  1. Semua pesan media dibangun
  2. Setiap media memiliki karakteristik, kekuatan dan keunikan membangun bahasa yang berbeda
  3. Pesan media diproduksi untuk suatu tujuan
  4. Semua pesan media berisi penanaman nilai dan tujuan yang ingin dicapai
  5. Manusia menggunakan kemampuan, keyakinan, pengalaman mereka untuk membangun arti pesan media
  6. Media dan pesan dapat mempengaruhi keyakinan, dan pengalaman mereka untuk membangun sendiri arti pesan media

Defenisi Literasi Media

Literasi media merujuk kemampuan khalayak yang melek terhadap media dan pesan media. 

Berikut ini beberapa definisi literasi media:
  • Literasi media adalah pengetahuan mengenai berbagai media berfungsi dalam masyarakat (Paul Messaris)
  • Literasi media adalah memahami kemampuan budaya, ekonomi, politik, dan teknologi pembuatan, produksi, dan penyiaran pesan (Justin Lewis & Shut Shally) 
  • Literasi media adalah rangkaian gerakan melek media, yaitu gerekan melek media dirancang untuk meningkatkan kontrol individu terhadap media yang mereka gunakan untuk mengirim dan menerima pesan (Baran & Dennis). 
  • Literasi media adalah kemampuan itu untuk komunikasikan dengan segenap kemampuan di dalam semua media, cetakan dan elektronik, seperti juga untuk mengakses, meneliti dan mengevaluasi gambaran-gambaran, kata-kata dan bunyi-bunyi yang membentuk kultur media massa saat itu (Tapio Varis).
Pakar komunikasi Art Silverblatt mengemukakan upaya sistematis untuk menjadikan melek media (literasi media) sebagai bagian dari orientasi terhadap budaya khalayak. 

(Silverblatt,1995:2-3) mengidentifikasi lima elemen literasi media  yaitu:
  1. Kesadaran akan dampak media pada individu dan masyarakat
  2. Pemahaman atas proses komunikasi massa
  3. Pengmbangan strategi untuk menganalisis dan mendistkusikan pesan media
  4. Kesadaran atas konten media sebagai sebuah teks yang memberikan pemahaman kepada budaya kita dan diri kita sendiri
  5. Pemahaman kesenangan, pemahaman dan apresiasi yang ditingkatkan terhadap konten media.
Literasi media mencakup pengetahuan atau pendidikan tentang media semata serta melihat pengaruh buruk yang dapat ditimbulkan dari pesan-pesan media dan cara mengantisipasinya.
Literasi media bertujuan membantu konsumen agar memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang isi media, sehingga dapat mengendalikan pengaruh media dalam kehidupannya.

Pengertian Literasi Media: Latar Belakang & Ruang Lingkup

Tujuan literasi media juga adalah untuk menghasilkan publik atau warga masyarakat yang “well informed” serta dapat membuat penilaian terhadap kontent media berdasarkan pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap media yang bersangkutan (Eadie,2009:564).
Istilah media sendiri mencakup semua media komunikasi massa, seperti televisi, radio, film, surat kabar, majalah, dan media internet (media online). 

Buckingham (2005) dan Living Stone (2005) menyatakan, Literasi media adalah 
  1. Memiliki akses ke media
  2. Memahami media 
  3. Menggunakan media. 
Center For Media Literacy (2003) menyatakan, upaya untuk literasi media bagi khalayak adalah untuk mengevaluasi dan berpikir secara kritis terhadap konten media massa, mencakup:
  1. Kemampuan mengkritik media
  2. Kemampuan memproduksi media
  3. Kemampuan mengajarkan tentang media
  4. Kemampuan mengeksplorasi sistem pembuatan media
  5. Kemampuan mengeksplorasi berbagai posisi
  6. Kemampuan berpikir kritis atas isi media

Demikian ulasan ringkas mengenai Pengertian Literasi Media: Latar Belakang & Ruang Lingkup. (www.komuniksipraktis.com).*

Beberapa Referensi tentang Pengertia Literasi Media
  • Apriadi Tamburaka. 2013. Literasi Media: Cerdas bermedia khalayak media massa. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Marsel Ruben payong, ”Media Literacy, Agenda Pendidikan yang Terlupakan”,
  • Potter, James W. 2008. Media Literacy 4th ed. Thousand Oaks: Sage Publications 
Komunikasi Praktis Updated at: Tuesday, January 17, 2017
thumbnail

Partisan dalam Kerja Jurnalisme merupakan Tindakan Amoral

Partisan dalam Kerja Jurnalisme merupakan Tindakan Amoral
PADA masa perang, publisis (jurnalis/wartawan yang patriotik dengan tulus mengabdi kepada negara. Tanpa ragu disebut sebagai partisan.

Padahal, menjadi partisan dalam kerja komunikasi, khususnya jurnalisme, merupakan tindakan amoral.

Namun, panggilan suci demi negara menabalkan partisanship disertai moral suci. Akan tetapi, kapan suatu peperangan dapat dimasuki para publisis?

Tidak setiap aksi militer dapat disebut sebagai peperangan. Perang ditandai dengan pihak-pihak (belligerent) antarnegara yang dinyatakan secara terbuka dalam lingkup hukum internasional.

Seorang publisis, khususnya jurnalis, bukan militer. Dia dilatih bukan untuk memerangi musuh. Jika dia ikut sebagai partisan dalam perang negaranya, panggilan utama adalah ke dalam negeri, yaitu memupuk semangat dan moral bangsa. Demoralisasi bangsa dalam masa perang dapat menghancurkan negara.

Mungkin ada yang mau ikut berperang dengan menjalankan perang psikologis (psychological warfare) tertuju pada musuh. Namun, dengan panggilan semacam ini harus berpindah profesi, bukan lagi sebagai jurnalis, melainkan agen rahasia.

Disiplin Jurnalisme
Tanpa perang antarnegara, jurnalis mana yang mau sebagai partisan?

Disiplin jurnalisme adalah objektivitas yang selamanya dalam dua sisi: kebenaran (truth) pada objek faktual dan netralitas pada diri jurnalis. Karena itu, bukan sekadar tujuan pragmatis dalam berkomunikasi yang perlu, tetapi menyadari keberadaan diri dan hasil kerja dalam ruang sosial.

Namun, dalam hal tertentu, media biasa mengambil posisi segaris dengan pandangan pihak tertentu, atau posisi mendukung sikap pro atau kontra dalam menghadapi isu publik yang kontroversial atau diperdebatkan (disputed).

Keberpihakan dan sikap macam apa yang dapat diterima dalam kerangka objektivitas yang dijunjung tinggi dalam kerja jurnalisme?

Media jurnalisme tidak boleh bersifat partisan secara organis pada pihak/kelompok, sebab partisanship-nya adalah pada gagasan moral yang dijadikan dasar dalam menghadapi fakta.

Karena itu, di atas episteme jurnalisme, masih ada tujuan jurnalisme yang lain, yaitu nilai kebajikan umum yang harus dijaga dan diwujudkan.

Pembelajar jurnalisme menghayati dua dimensi yang akan menjadikan media bersifat organik bagi publik secara luas, yaitu secara pragmatis sosial melalui objektivitas dan secara kultural sebagai penjaga moral publik. Dari sini media jurnalisme menjadi ekstensi bertimbal balik dengan publik dalam platform rasionalitas.

Menjelang pemilihan presiden mungkin ada yang menghidupkan atau hidup dalam suasana perang. Jurnalis tentunya tidak terseret untuk berpandangan senaif itu sebab suatu kontestasi politik tidaklah perang antarpihak yang bermusuhan.

Pihak-pihak dalam kontestasi ini adalah kandidat dan organisasi pendukungnya, masing-masing berusaha merebut perhatian publik. Jelas kiranya media independen dan non-partisan tidak akan melibatkan diri dalam perang antarpihak.

Dalam kontestasi, pemberitaan berasal dari peristiwa empiris (interaksi dengan kelompok pendukung) maupun gagasan yang dinyatakan setiap kandidat. Setiap informasi berasal dari kontestan tentang dirinya perlu diasumsikan sebagai propaganda putih, sedangkan berkaitan dengan ”musuh” sebagai propaganda hitam.

Media jurnalisme tidak perlu membuang energi memuat propaganda hitam sebab harus menyediakan porsi yang sama untuk pembelaan diri. Ofensif dan defensif dalam komunikasi setiap pihak memboroskan sumber daya media.

Kepentingan Publik
Media jurnalisme pada dasarnya tidak berkepentingan dengan siapa pemenang di antara kandidat sebab sebagai tujuan tetap dan akhir (ultimate) dalam jurnalisme adalah publik, bukan penguasa.

Demi kepentingan publik, dari dinamika kontestasi perlu dicari wacana yang perlu digaristebalkan. Pada setiap informasi apakah dari peristiwa dan pernyataan dalam dinamika kontestasi, dilihat gagasan moral yang terkandung maupun dinyatakan oleh pihak mana pun.

Informasi diperlakukan sebagai wacana yang kebenarannya bersifat terbuka. Dengan begitu, media dapat mengangkat gagasan moral/kebajikan umum dari setiap kandidat.

Media jurnalisme dapat mengambil peran dalam menumbuhkan rasionalitas masyarakat politik di ruang publik dalam menghadapi wacana politik.

Namun, dengan alam pikiran ”perang”, platform jurnalisme objektivitas dan kebajikan umum tidak mendapat tempat. Bagi kalangan ini hanya ada kawan dan musuh. Media jurnalisme independen dan non-partisan dianggap tidak mendukung sehingga digolongkan sebagai musuh.

Disayangkan, kaum publisis yang terlibat dalam kontestasi politik ini juga terseret dalam perang komunikasi. Akibatnya, kontestan dirugikan oleh tim pendukungnya sendiri karena bersikap apriori bermusuhan dengan media. Mengusir awak media karena menganggap tidak sebagai media pendukung, siapa yang rugi?

Publisis yang ikut dalam barisan kontestan ini agaknya tidak mentaklimat tim lapangan yang menjaga pintu (gate keeper) ajang kampanye. Penjaga pintu di sini bertugas secara harfiah, tetapi sekaligus juga berfungsi komunikator.

Konsep public relations yang elementer menggolongkan media tiga macam bagi klien (kontestan), yaitu favourable (menguntungkan), netral, dan unfavourable (tidak menguntungkan).

Dalam komunikasi, tidak ada musuh, tetapi bagaimana menjalankan strategi menjaga yang sudah menguntungkan dan mengubah yang belum menguntungkan agar sesuai dengan track kontestan.

Bersama publisis yang ada sebagai pendukung, kontestan perlu menjalankan komunikasi rasional. Namun, kalau yang dijalankan komunikasi dengan strategi perang psikologis, pemahaman jurnalisme sudah tidak diperlukan. Lebih baik menjauh sebelum digebuk!

Sumber: Ashadi Siregar, Peneliti Media dan Pengajar Jurnalisme di LP3Y, Yogyakarta. Perang Komunikasi, Kompas, Rabu 09 Juli 2014. Link
Komunikasi Praktis Updated at: Wednesday, January 11, 2017
Subscribe via Email