Featured Posts

thumbnail

5 Kesalahan MC dalam Memandu Acara

5 Kesalahan MC dalam Memandu Acara

SEORANG Pembawa Acara atau Master of Ceremony (MC) "pemula" (newbie emcee) sering melakukan kesalahan dalam penggunaan kata-kata atau kalimat.

Sang MC umumnya meniru MC senior, padahal yang dikatakan senior itu keliru secara bahasa karena menggunakan kalimat tidak logis.

5 Kesalahan MC dalam Memandu Acara

Berikut ini lima kesalahan MC dalam menggunakan kata, frasa, atau kalimat. Salah karena menggunakan kalimat tidak logis. Jadi, ini kesalahan dari sudut bahasa yang baik dan benar (baku) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

1. Mempersingkat Waktu

Jangan gunakan frasa "untuk mempersingkat waktu" karena waktu tidak bisa disingkat. Waktu hanya bisa dihemat atau diefisienkan.

Karenanya, gunakan frasa "Untuk efisiensi waktu, acara selanjutnya..." atau langsung saja gunakan frasa "acara selanjutnya".

Misalnya: Hadirin, mari kita buka acara ini dengan mengucapkan basmalah... bismillahirrohmanirrohim...// Acara selanjutnya sambuta-sambutan// Sambutan pertama/ dari ketua panitia// Kepada Ketua Panitia, Bapak Ahmad Fulan, kami persilakan (atau "kami silakan").

2. Menginjak Acara

Selain frasa "untuk mempersingkat waktu", frasa keliru MC lainnya yaitu "menginjak acara". Menurut KBBI, "injak" artinya "letakkan kaki (ke tanah, permukaan, dan sebagainya)". Menginjak = meletakkan kaki ke tanah, permukaan, dsb.

Acara diinjak? O, tentu tidak bisa! Itu namanya "kekerasan dalam acara" (KDA). Jadi, ngomong apa dong? Ucapkan saja: "Acara selanjutnya". Simple 'kan?

3. Waktu dan Tempat 

"Waktu dan tempat kami persilakan" sangat sering digunakan oleh pemandu acara yang belum paham atau belum pernah ikut Pelatihan MC.

Mempersilakan waktu dan tempat tampil adalah hal tidak logis. Waktu dan tempat bukan orang, bukan pengisi acara, bukan pemateri. Karenanya, jangan gunakan frasa "waktu dan tempat", tapi gunakan nama orang yang kita silakan tampil.

Contoh:
- Kepada Bapak Lurah, kami persilakan...
- Kepada Bapak Ketua Panitia, kami silakan....

Persilakan? Iya, persilakan, kenapa emang? Oh... awalan "per" ya? Baiklah. Menurut KBBI, salah satu arti "per" adalah "membuat lebih", seperti "perluas" (sudah luas, ditambah luas).

Maka, kata "persilakan" bermakna lebih disilakan karena biasanya pengisi acara menang sudah lebih dulu disilakan ketika namanya dicantumkan dalam susunan acara.

Bagaimana dengan kata "disilakan". Konon, itu untuk ungkapan lebih hormat. Tapi, kata "sila" sendiri sudah bermakna "memohon dengan hormat".

Disilakan bermakna "diminta dengan hormat". Nah, siapa yang meminta? Kesimpulan, karena yang komunikasinya antara MC sebagai orang pertama dan pembicara sebagai orang kedua, maka seharusnya gunakan kata "kami persilakan" atau "kami silakan".

4. Hadirin Sekalian/Para Hadirin

Kata “hadirin” merupakan serapan dari bahasa Arab dari akar kata “hadoro” yang artinya menghadiri atau ada di tempat. Dalam bahasa Arab, hadir artinya orang yang hadir, hadironi (dua orang yang hadir), dan hadirun/hadirin (orang-oran yang hadir).

Jadi, "hadirin" sudah bermakna banyak (plural), yakni orang-orang yang hadir, sehingga tak perlu lagi menggunakan kata "sekalian" atau "para" yang juga menunjukkan banyak. Cukup: hadirin!

Frasa "hadirin sekalian" atau "para hadirin" adalah pleonasme, yaitu majas bahasa yang menambahkan informasi pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak dibutuhkan, sebaimana "dia turun ke bawah" (turun pasti ke bawah dong!) atau "naik ke atas" (naik sudah pasti ke atas dong!).

5. Yang Terhormat

MC sering menyapa tamu khusus atau pejabat yang hadir dalam sebuah acara dengan ungkapan "yang terhormat". Jika hanya menyebutkan satu nama, maka tidak masalah.

Namun, dalam banyak kasus, MC menyebutkan frasa "yang terhormat" berkali-kali untuk menyebut nama lain. Misalnya:

  • Yang terhormat Bapak Camat
  • Yang terhormat Bapak Kapolsek
  • Yang terhormat Bapak Lurah
Penggunakan frasa "yang terhormat" bagi ketiga pejabat di atas keliru, tidak logis, karena fras "yang terhormat" hanya untuk SATU orang, yaitu orang yang tertinggi jabatannya di antara hadirin/tamu undangan.

Awalan "ter-" pada kata "terhormat" artinya "yang paling" sehingga "terhormat" artinya "paling dihormati". Logikanya, orang yang paling dihormati harus satu orang, sebagaimana siswa terbaik (paling baik), gunung tertinggi (paling tinggi), anak tertua (paling tua), anggota termuda (paling muda), dan sebagainya.

Lalu, bagaimana seharusnya?

Gunakan "yang terhormat" hanya untuk satu nama, yaitu pejabat tertinggi yang hadir di ruangan. Sisanya, gunakan frasa "yang kami hormati".


Contoh:
- Yang terhormat Bapak Camat
- Yang kami hormati Bapak Lurah, Bapak RW, dan Bapak RT.
- Hadirin yang berbahagia.

Namun demikian, tidak keliru juga menggunakan frasa "yang terhormat" berkali-kali untuk beberapa nama, jika yang dimaksud"ter-" dalam kata "terhormat" itu bermakna "dalam keadaan" (terhormat = dalam keadaan dihormati).

Menurut laman Badan Bahasa, arti awalan ter- ada empat:

  1. Paling. Berlaku kalau awalan ter- melekat pada kata sifat, seperti cantik, pandai, dan tinggi. Jadi, kata tercantik, terpandai dan tertinggi berarti ‘paling cantik’, ‘paling pandai’, dan ‘paling tinggi’. 
  2. Tidak sengaja atau tiba-tiba. Contohnya adalah terjatuh, tersenggol, terbangun, dan teringat. Kata-kata itu berarti 'tidak sengaja jatuh', 'tidak sengaja menyenggol', 'tiba-tiba bangun', dan 'tiba-tiba ingat'.
  3. Dapat di. Kata "terkira" dan "terangkat" adaIah contoh kata berawalan ter- yang berarti 'dapat di-'. Jadi, kata terkira dan terangkat itu berarti 'dapat dikira' dan 'dapat diangkat'. 
  4. Telah dilakukan atau dalam keadaan. Contoh awalan ter- yang berarti 'telah dilakukan' atau 'dalam keadaan' terdapat pada kata terbuka dan tergeletak. Terbuka ber­arti 'telah dibuka', 'dalam keadaan dibuka' dan tergeletak berarti 'dalam keadaan menggeletak'.


Kenapa "Kami"?

Contoh-contoh di atas menggunakan kata "kami", bukan "saya" (sebagai emsi). Kenapa?

Menggunakan "kami" karena MC mewakili panitia acara atau tuan rumah. Wasalam. (www.komunikasipraktis.com).*

Komunikasi Praktis Updated at: Saturday, October 05, 2019
thumbnail

Keterampilan Berbicara - Speaking Skills

BERBICARA (speaking) merupakan bagian dari komunikasi, selain mendengarkan (listening) dan menulis (writing).

Keterampilan berbicara (speaking skills) menjadi kunci sukses dalam karier atau pekerjaan dan pergaulan sosial. Keterampilan Berbicara akan memudahkan penyampaian pesan secara lisan atau verbal.

Keterampilan Berbicara - Speaking Skills

Secara umum, keterampilan berbicara meliputi 4 hal berikut ini:
  1. Kefasihan (Fluency) atau Kelancaran.
  2. Kosa Kata (Vocabulary)
  3. Tata Bahasa (Grammar)
  4. Pengucapan (Pronounciation)

Pengertian Berbicara 

Para ahli banyak menggunakan sudut pandang yang berbeda dalam mendefinisikan berbicara.

Suhendar (1992) mengatakan, berbicara adalah proses perubahan wujud pikiran atau perasaan menjadi wujud ujaran berupa bunyi-bunyi bahasa yang bermakna.

Depdikbud (1985) mengartikan berbicara sebagai penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain.

Tarigan (1983): berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.

Menurut Brown dan Yule (2007), berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa untuk mengekspresikan atau menyampaikan pikiran, gagsan atau perasaan secara lisan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan, pengertian berbicara adalah penyampaian pikiran berupa ide, gagasan, atau isi hati dalam bentuk ujaran atau bahasa lisan.

Fungsi dan Hakikat Berbicara

1. Komunikasi

Menurut Tarigan (1983), tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi atau penyampaian pesan (ide, informasi, pemikiran).

2. Ekspresi Diri

Kepribadian seseorang dapat dilihat dari pembicaraannya. Berbicara merupakan ekspresi diri. Dengan berbicara seseorang dapat menyatakan kepribadian dan pikirannya.

3. Mental Motorik

Berbicara melibatkan aspek mental. Bagaimana bunyi bahasa dikaitkan dengan gagasan yang dimaksud pembicara merupakan suatu keterampilan tersendiri.

Kemampuan mengaitkan gagasan dengan bunyi-bunyi bahasa (kata dan kalimat) secara tepat merupakan kemampuan yang mendukung keberhasilan.

Menurut Djago, dkk (1997) tujuan pembicaraan meliputi:
(1) menghibur,
(2) menginformasikan,
(3) menstimulasi,
(4) meyakinkan,
(5) menggerakkan.

Keterampilan Berbicara

Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, mengatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan (Tarigan, 1983).

Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Kaitan antara pesan dan bahasa lisan sebagai media penyampaian sangat berat. Pesan yang diterima oleh pendengar tidaklah dalam wujud asli, tetapi dalam bentuk lain yakni bunyi bahasa. Pendengar kemudian mencoba mengalihkan pesan dalam bentuk bunyi bahasa itu menjadi bentuk semula.

Menurut Arsjad dan Mukti U.S. (1993), kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan kalimat-kalimat untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.

Keterampilan berbicara merupakan suatu keterampilan menyampaikan pesan secara lisan kepada orang lain.

Penggunaan bahasa secara lisan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang secara praktis langsung bisa kita simak:

(a) pelafalan;
(b) intonasi;
(c) pilihan kata;
(d) struktur kata dan kalimat;
(e) sistematika pembicaraan;
(f) isi pembicaraan;
(g) cara memulai dan mengakhiri pembicaraan; dan
(h) penampilan.

Menurut Supriyadi (2005), jika seseorang memiliki keterampilan berbicara yang baik, maka dia akan memperoleh keuntungan sosial maupun profesional.

Keuntungan sosial berkaitan dengan kegiatan interaksi sosial antarindividu. Keuntungan profesional diperoleh sewaktu menggunakan bahasa untuk membuat pertanyaa-pertanyaan, menyampaikan fakta-fakta dan pengetahuan, menjelaskan dan mendeskripsikan.

Keterampilan berbahasa lisan tersebut memudahkan peserta didik berkomunikasi dan mengungkapkan ide atau gagasan kepada orang lain.

Jenis-Jenis Berbicara

Berdasarkan situasinya, berbicara dapat dibagi menjadi dua, yaitu berbicara resmi (formal) dan berbicara informal (tidak resmi).

Berbicara formal (resmi) antara lain public speaking (ceramah, pidato, presentasi), debat, dan wawancara.

Berbicara informal adalah berbicara pada situasi nonformal, tidak terikat oleh aturan-aturan seperti pada berbicara formal, seperti mengobrol, menyampaikan berita (kabar), menyampaikan pengumuman, telepon, dll.

Berbicara Efektif

Kita akan berbicara secara efektif jika memenuhi unsur keterampilan berbicara sebagai berikut:

1. Ketepatan pengucapan

Pelafalan atau pengucapan bunyi-bunyi bahasa yang tidak tepat atau cacat akan menimbulkan kebosanan, kurang menyenangkan, atau kurang menarik sehingga dapat mengalihkan perhatian pendengar, mengganggu komunikasi, atau pemakainya dianggap aneh (Maidar dan Mukti, 1991).

2. Ketepatan intonasi

Intonasi terkait dengan tekanan suara yang biasanya jatuh pada suku kata terakhir atau suku kata kedua dari belakang. Intonasi yang tidak tepat akan menimbulkan pemahaman yang keliru atau berbeda dengan yang dimaksud.

3. Pilihan kata (diksi)

Pilihan kata (diksi) hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran. Pendengar akan lebih terangsang dan lebih paham, kalau kata-kata yang digunakan sudah dikenal oleh pendengar.

4. Kelancaran 

Pembicara yang baik menghindari berbicara terputus-putus, tidak mengeluarkan bunyi-bunyi tertentu yang sangat mengganggu (misalnya ee, hmmm, oo, aa). Namun, pembicara yang terlalu cepat dalam berbicara juga menyulitkan pendengar menangkap pokok pembicarannya.

Keterampilan Berbicara - Speaking Skills

Faktor Penunjang Terampil Berbicara

Faktor penunjang pada kegiatan berbicara menyangkut kebahasaan  (linguistik)  dan non kebahasaan (nonlinguistik) ssebagai berikut:

  1. Ketepatan ucapan,
  2. Penempatan tekanan nada, sendi atau durasi yang sesuai,
  3. Pilihan kata,
  4. Ketepatan penggunaan kalimat serta  tata bahasanya,
  5. Ketepatan sasaran pembicaraan. 
  6. Sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku,
  7. Pandangan harus diarahkan ke lawan bicara,
  8. Kesediaan menghargai orang lain, 
  9. Gerak-gerik dan mimik yang tepat,
  10. Kenyaringan suara,
  11. Kelancaran,
  12. Relevansi, penalaran,
  13. Penguasaan topik.

Menurut Rusmiati (2002), ciri-ciri pembicara yang baik antara lain meliputi hal-hal di bawah ini.

1. Memilih topik yang tepat. 

Pembicara yang baik selalu dapat memilih materi atau topik pembicaraan yang menarik, aktual dan bermanfaat bagi para pendengarnya, juga selalu mempertimbangkan minat, kemampuan, dan kebutuhan pendengarnya.

2. Menguasai materi.

Pembicara yang baik selalu berusaha mempelajari, memahami, menghayati, dan menguasai materi yang akan disampaikannya.

3. Mengenal audiens

Pembicara yang baik akan memahami latar belakang pendengar. Sebelum pembicaraan berlangsung, pembicara yang baik berusaha mengumpulkan informasi tentang pendengarnya.

4. Kontak dengan pendengar. 

Pembicara berusaha memahami reaksi emosi, dan perasaan mereka, berusaha mengadakan kontak batin dengan pendengarnya, melalui pandangan mata, perhatian, anggukan, atau senyuman.

Demikian ulasan tentang Keterampilan Berbicara (Speaking Skills). Wasalam. (www.komunikasipraktis.com).*

Referensi
  • Henry Guntur Tarigan. 1981. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
  • Listia. 2014. Hubungan Ketrampilan Berbicara dengan Ketrampilan Berbahasa Lain.
  • Asep Syamsul M. Romli. 2012. Lincah Menulis Pandai Bicara. Bandung: Nuansa.

Komunikasi Praktis Updated at: Friday, September 13, 2019
thumbnail

Pengertian Teknopreneur, Asal-Usul, dan Contohnya

Pemerintah dikabarkan siap menerapkan progam Kartu Prakerja. Kabarnya, kartu itu untuk memfasilitasi calon pekerja menjadi teknopreneur. Apa itu teknopreneur?

Pengertian Teknopreneur

Pengertian Teknopreneur

Secara bahasa, teknopreneur (technopreneur) adalah pengusaha teknologi atau wirausaha teknologi (KBBI). Istilah ini terdiri dari dua kata, technology dan entrepeneur.

Dalam bahasa Inggris, entrepeneur artinya pengusaha, yaitu seseorang yang mengatur dan mengoperasikan bisnis atau bisnis.

Entrepreneur secara bahasa berarti orang yang melakukan aktivitas wirausaha dicirikan dengan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.

Jadi, pengertian teknopreneur adalah pelaku usaha di bidang teknologi. Mereka sering juga disebut pelaku ekonomi digital, seperti usaha rintisan atau start-up.

Teknopreneur adalah salah satu dampak Revolusi Industri 4.0.

Menurut Oxford Dictionary, technopreneur adalah "a person who sets up a business concerned with computers or similar technology" (seseorang yang mendirikan bisnis yang berkaitan dengan komputer atau teknologi serupa).

Teknopreneur sering disebut "entrepreneur modern" karena berbasis teknologi terkini

Seorang teknopreneur adalah wirausahawan yang paham teknologi, kreatif, inovatif, dinamis, berani tampil beda dan menempuh jalan yang belum dijelajahi, dan sangat bersemangat dengan pekerjaan mereka.

Mereka mengambil tantangan dan berusaha untuk menjalani hidup mereka dengan kesuksesan yang lebih besar. Mereka tidak takut gagal. Mereka menganggap kegagalan sebagai pengalaman belajar, stimulator untuk melihat sesuatu secara berbeda dan melangkah untuk tantangan berikutnya.

Technoprenuers terus melalui proses organik perbaikan berkelanjutan dan selalu berusaha untuk mendefinisikan kembali ekonomi digital yang dinamis.

Dalam literatur ekonomi, entrepreneur didefinisikan sebagai sesesorang yang menciptakan bisnis atau usaha dengan keberanian untuk mengambil risiko guna mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang yang ada.

Asal-Usul Teknopreneur

Istilah teknopreneur muncul di akhir tahun 1990-an seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya internet.

Istilah teknopreneur mulai booming di tahun 2000-an setelah teknologi internet masuk ke pelosok-pelosok.

Pendirian dan pengembangan perusahaan Information Technology (IT), seperti Microsoft, Yahoo, dan Google, juga dilakukan teknopreneuer.

Kesuksesan Google sebagai salah satu perusahaan teknologi yang mengawali kariernya dari sebuah startup.

Teknopreneur ternama, Bill Gates, bahkan menjadi orang terkaya nomor satu di dunia versi majalah Forbes.

Sebagaimana enterpreneur pada umumnya, seorang teknopreneur mampu melihat peluang yang ada di sekitar mereka.
S
aat ini sangat terbuka peluang untuk menjadi teknopreneur melalui bisnis online. Anda bisa memulainya dengan blogging, lalu mengembangkannya menjadi blog bisnis.

Ketekunan blogging dan belajar pemrograman akan meningkatkan kemampuan "coding" yang bisa berujung pada penciptaan aplikasi.

Sudah banyak bermunculan teckopreneur sukses dunia saat ini, seperti mereka yang mendirikan Facebook, Twitter, Microsoft, Google, Kaskus, Go-Jek, Bukalapak, dll.

Demikian pengertian teknopreneur. Wasalam. (www.komunikasipraktis.com).*

Komunikasi Praktis Updated at: Sunday, August 18, 2019
thumbnail

Formula AIDA dalam Pembuatan Iklan Efektif dan Menarik

AIDA adalah rumus klasik periklanan singkatan dari Attention, Interest, Desire, dan Action.

Formula AIDA dalam Pembuatan Iklan


AIDA merupakan rumus "Oldie but a goody" kata Forbes. Sudah lama dan terkenal, namun masih ampun menjadi pedoman periklanan atau penulisan naskah iklan (copywriting).

Sering ditambah dengan C (Conviction) menjadi AIDCA, AIDA adalah formula sederhana yang dirancang untuk menarik perhatian orang dan membawanya melalui konten Anda sampai mereka mengambil tindakan atas apa yang telah mereka baca.

Versi yang sedikit lebih canggih dari ini adalah AIDCA / AIDEA, yang mencakup tambahan dari Conviction (keyakinan) / Evident (bukti) antara keinginan dan tindakan.

Model AIDA adalah formula yang acap digunakan untuk analisis dan acuan dalam perencanaan sebuah iklan secara menyeluruh yang mempengaruhi segala aspek persiapan pre-produksi, produksi, dan pasca-produksi kampanye iklan; seperti: elemen-elemen desain, materi atau konten iklan, format copywriting, media penyampaian iklan, dan lain-lain.

Pengertian AIDA

AIDA adalah akronim dari Attention/Awareness, Interest, Desire dan Action. Model AIDA secara luas digunakan dalam pemasaran dan periklanan untuk menggambarkan langkah-langkah atau tahapan yang terjadi dimulai ketika konsumen pertama-tama menjadi sadar akan suatu produk atau merek sampai ketika konsumen menguji suatu produk atau membuat keputusan pembelian.

Attention ➡ Interest ➡ Desire ➡ Action
Perhatian ➡ Ketertarikan➡ Keinginan ➡ Tindakan

Mengingat banyak konsumen menjadi sadar akan brand melalui iklan atau marketing communications, model AIDA membantu menjelaskan bagaimana pesan marketing communications atau iklan melibatkan konsumen dalam pemilihan Brand.

Menurut Kasali (1995), AIDCA terdiri dari perhatian (Attention), minat (Interest), keinginan (Desire), rasa percaya (Conviction), dan tindakan (Action).

1. Perhatian (Attention)

Artinya iklan harus menarik perhatian khalayak sasarannya, baik pembaca, pendengar atau pemirsa. Beberapa penulis naskah iklan mempergunakan trik trik khusus untuk menimbulkan perhatian calon pembeli, seperti:
(a). menggunakan headline yang mengarahkan,
(b) menggunakan slogan yang mudah diingat.
(c) Menonjolkan atau menebalkan huruf huruf tentang harga bila harga merupakan unsur penting dalam mempengaruhi orang untuk membeli.
(d) menonjolkan selling point suatu produk
( e) menggunakan sub sub judul untuk membagi naskah dalam beberapa paragraf pendek.
(f) menggunakan huruf tebal (bold) untuk menonjolkan kata kata yang menjual

2. Interest (minat)

Artinya iklan harus bisa membuat orang yang sudah memperhatikan menjadi berminat dan ingin tahu lebih lanjut. Untuk itu mereka dirangsang agar membaca dan mengikuti pesan pesan yang disampaikan.

Dengan demikian, penggunaan kata kata atau kalimat pembuka sebaiknya dapat merangsang orang untuk ingin tahu lebih lanjut.

3. Keinginan / Kebutuhan (Desire)

Iklan harus berhasil menggerakkan keinginan orang untuk memiliki atau menikmati produk yang diiklankan. Kebutuhan atau keinginan mereka untuk memiliki, memakai atau melakukan sesuatu harus dibangkitkan.

4. Rasa Percaya (Conviction)

Untuk menimbulkan rasa percaya pada calon pembeli, sebuah iklan dapat ditunjang dengan berbagai kegiatan peragaan seperti pembuktian, membagi bagikan contoh secara gratis, menyampaikan pandangan pandangan positif dari tokoh masyarakat terkemuka (testimonial) serta hasil pengujian oleh pihak ketiga misalnya dari departemen kesehatan, laboratorium swasta terkenal, atau dari perguruan tinggi.

5. Tindakan (Action)

Aksi adalah upaya terakhir untuk membujuk calon pembeli agar sesegera mungkin melakukan tindakan pembelian atau bagian dari proses itu.

Memilih kata yang tepat agar calon pembeli melakukan respon sesuai dengan yang diharapkan adalah suatu pekerjaan yang sangat sulit. Harus digunakan kata perintah agar calon pembeli bergerak. Penggunaan kata perintah harus diperkirakan dampak psikologisnya, jangan menyinggung perasaan atau menimbulkan antipati.

Selain kata perintah, penggunaan batas waktu penawaran dan kupon / formulir yang harus diisi bisa merupakan cara untuk meimbulkan tindakan

Kesimpulan, dengan formula AIDA atau AIDCA, iklan hendaknya dibuat sedemikian rupa agar menarik perhatian, membangkitkan ketertarikan, menimbulkan minat atau hasrat, meyakinkan, dan mendorong orang untuk membeli produk atau jasa/layanan yang ditawarkan. Wasalam. (www.komunikasipraktis.com).*

Komunikasi Praktis Updated at: Tuesday, August 13, 2019
thumbnail

Tak Hanya Digunakan untuk Fotografi, Ternyata Drone Juga Memiliki 7 Fungsi Lainnya Lho!

drone fotografi


Alat satu ini memang lagi hits banget di kalangan fotografi dan videografi, jadi tak heran banyak yang menekuni hobi tersebut yang ingin sekali memiliki drone. Ya, inilah drone.

Apa sih drone itu? 

Drone merupakan sebuah perangkat yang dapat memotret dan merekam video dari ketinggian. Bentuknya seperti pesawat terbang hanya saja tidak memiliki awak, berukuran kecil dan ringan dibawa ke mana pun.

Tidak hanya berfungsi untuk mengambil dan merekam video, kini drone juga telah dimanfaatkan untuk rekreasional, komersial dan militer lho! Pasti kamu penasaran kan? Yuk, langsung intip artikelnya di bawah ini!

1. Membantu mengatasi bencana alam

drone bencana alam

Bencana alam dapat berakibat buruk bagi siapa saja, misalnya saja membuat akses lokasi menjadi tak terkendali dan terputus.

Manusia pun tidak bisa mengatasi hal ini karena keterbatasan dalam akses tempat terjadinya bencana alam. Oleh sebab itu, banyak yang menggunakan drone untuk mengatasinya.

Mereka memanfaatkan drone untuk melacak korban, mengumpul dan mengirim sampel medis, persediaan makanan serta obat-obatan di daerah terpencil yang susah diakses menggunakan kendaraan.

Selain itu, di dalam drone mereka juga menanamkan sensor inframerah yang dapat mendeteksi manusia sehingga dapat mencari dan melakukan penyelamatan korban.

2. Dapat digunakan untuk membantu penjelajahan lokasi tambang, gas dan minyak bumi

penjelajahan lokasi tambang, gas dan minyak bumi

Drone mampu mendeteksi dan mengumpulkan informasi geologi karena dilengkapi dengan sensor elektromagnetik. Tak hanya itu benda kecil ini juga mampu mendeteksi keberadaan dan memperkirakan lokasi hingga keberadaan mineral, minyak dan gas alam.

Drone juga bisa digunakan sebagai pengelola infrastruktur dan aset bagi perusahaan tertentu. Mulai dari perusahaan minyak, gas dan tambang drone ini mampu meningkatkan efisiensi.

3. Dapat digunakan untuk real estate dan konstruksi

drone konstruksi

Salah satu bidang pekerjaan bisa memanfaatkan drone untuk menunjang kinerja adalah konstruksi dan real estate.

Dengan drone perusahaan ini akan lebih mudah untuk mengumpulkan informasi lokasi konstruksi. Mereka akan menggunakan drone sebagai pembantu dan pemasaran proses penjualan real estate dengan cara mengumpulkan video serta gambar bangunan.

4. Bagian dari strategi serta taktik militer

drone polisi

Penggunaan drone mulai aktif di berbagai negara dalam bidang militer. Drone digunakan sebagai mata-mata untuk mengintai musuh hingga strategi untuk perang.

Awal mula pembuatan drone ini memang dibuat saat terjadinya perang dunia pertama. Hingga kini drone juga dipakai untuk keamanan dan mengontrol keadaan lalu lintas.

5. Dapat membantu petugas pemadam kebakaran

drone pemadam kebakaran

Memangnya bisa ya drone digunakan untuk memadamkan api? Bisa banget, karena sekarang ini drone dilengkapi dengan penyemprot air pada setiap titik yang telah teridentifikasi sebagai sumber kebakaran.

Dulunya memang drone hanya digunakan sebagai pemberi informasi di lokasi kejadian secara langsung.

Drone juga bisa difungsikan untuk mendeteksi penyebaran api, mengetahui titik evakuasi hingga menemukan korban yang terperangkap pada ruangan, lho!

6. Digunakan untuk membantu dalam bidang pertanian

drone pertanian

Dalam bidang pertanian drone digunakan sebagai peningkat produksi tanaman serta memantau pertumbuhan tanaman. Jadi, tak heran jika kini drone juga dibutuhkan dalam bidang pertanian.

Saat drone terbang di ketinggian tertentu akan memberikan informasi mengenai masalah irigasi, variasi tanah, penyerangan hama tanaman hingga mengecek kondisi kesehatan tanaman. Hebat banget kan?

Nah, itulah 6 fungsi drone yang bisa membantu pekerjaan di bidang aerial photography. Memang kini kecanggihan teknologi sudah semakin maju dan dapat mempermudah aktivitas manusia. Tertarik untuk memiliki drone?

Komunikasi Praktis Updated at: Monday, August 12, 2019

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright © Komunikasi Praktis. All rights reserved. New Johny Wuss Template by Contoh Blog & Maskolis
Web Partners: Romeltea Media - Blog Romeltea - Risalah Islam - Info Bandung. Member of BATIC Media Network