Teknik Reportase Peliputan Berita

Related Posts

Teknik Reportase Peliputan Berita
Reportase merupakan tugas utama wartawan, jurnalis, insan pers, atau awak media.

Teknik reportase atau teknik peliputan berita merupakan hal mendasar yang perlu dikuasai para wartawan atau reporter.

Teknik reportase adalah cara atau metode peliputan berita atau pengumpulan bahan berita untuk dituliskan (di media cetak dan online) atau disiarkan (di radio dan televisi).

Pengertian Reportase 

Reportase (reportage) secara bahasa artinya pemberitaan atau pelaporan. Dari kata "report" yang artinya "melaporkan" atau "memberitakan".

Kamus Inggris Mirriam Webster Dictionary mengartikan reportase (reportage) sebagai "the act or process of reporting news" (aksi atau proses pemberitaan) dan "something (as news) that is reported" (sesuatu yang dilaporkan".

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan reportase sebagai "pemberitaan", "pelaporan, dan "laporan kejadian (berdasarkan pengamatan atau sumber tulisan).

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, peliputan berita adalah proses pengumpulan data dan informasi di lapangan yang dilakukan wartawan atau jurnalis.

Proses ini bisa berupa pemantauan langsung dan pencatatan suatu peristiwa yang terjadi atau juga wawancara dengan sejumlah narasumber.

Dalam peliputan umumnya jurnalis melakukan perekaman baik suara maupun gambar dengan alat bantu seperti perekam suara (tape recorder) atau kamera untuk memotret.

Untuk berita penyiaran televisi, peliputan umumnya dilakukan dengan kamera video yang merekam jalannya peristiwa.

Dengan demikian, reportase adalah proses pengumpulan data untuk menyusun berita. Reportase bisa dikatakan merupakan proses jurnalistik terpenting karena dari proses inilah terkumpul bahan-bahan atau informasi untuk diberitakan.

Teknik Reportase

Dalam literatur jurnalistik, cara meliput peristiwa, mengumpulkan bahan berita, atau teknik reportase meliputi tiga hal:

1. Observasi.

Wartawan langsung datang ke lokasi kejadian, mengamati, dan mengumpulkan data/fata kejadian tersebut.

2. Wawancara

Wartawan bertanya untuk menggali informasi atau keterangan kepada narasumber --pengamat, pelaku, saksi, korban, dan siapa pun yang memiliki informasi.

3. Riset data

Disebut juga Studi Literatur dan Riset Dokumentasi, yaitu teknik reportase dengan cara membuka-buka arsip, buku, atau referensi terkait dengan berita yang akan ditulisnya.

Contoh Reportase

Wartawan datang ke lokasi seminar. Di sana ia mengamati jalannya acara, jumlah hadirin, materi pembicaraan, mengambil makalah (jika ada), mengambil foto/memotret (jika tidak ada fotografer), lalu wawancara panitia, narasumber, dan peserta.

Pengumpulan data untuk naskah berita meliputi 5W+1H:
  1. What (kejadian/acara apa)
  2. Who (siapa yang mengadakan, menghadiri, dan mengisi)
  3. When (kapan/waktu)
  4. Where (tempat atau lokasi kejadian)
  5. Why (tujuan acara, latar belakang)
  6. How (bagaimana jalannya acara). 
Demikian ulasan ringkas tentang Teknik Reportase - Peliputan Berita yang dikutip dari buku Jurnalistik Terapan karya ASM Romli -- Penerbit BATIC Press.

Kriteria Kelayakan Berita

Sebelum meliput sebuah peristiwa atau acara, seorang wartawan harus bisa menilai apakah peristiwa yang diliputnya layak diberitakan di medianya.

Wartawan senior Satrio Arismunandar di blog pribadinya menyebutkan, setiap media memiliki apa yang disebut kriteria kelayakan berita.

Selain itu, mereka juga memiliki apa yang disebut kebijakan redaksional (editorial policy). Kriteria kelayakan berita itu bersifat umum (universal), dan tak jauh berbeda antara satu media dengan media yang lain.

Sedangkan kebijakan redaksional setiap media bisa berbeda, tergantung visi dan misi atau ideologi yang dianutnya.

Perbedaan visi, misi dan ideologi ini akan berpengaruh pada sudut pandang atau angle peliputan. Dua media yang berbeda bisa mengambil sudut pandang yang berbeda terhadap suatu peristiwa yang sama.

Terakhir, tentu saja segmen khalayak yang dilayani tiap media juga berbeda-beda. Keinginan media untuk memuaskan kebutuhan segmen khalayak tersebut secara tak langsung juga berarti melakukan seleksi terhadap apa yang layak dan tidak layak diliput.

Berikut ini adalah sejumlah kriteria kelayakan berita, yang bersifat umum untuk semua media:

1. Penting.

Suatu peristiwa diliput jika dianggap punya arti penting bagi mayoritas khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa.

2. Aktual.

Suatu peristiwa dianggap layak diliput jika baru terjadi. Maka, ada ungkapan tentang berita “hangat,“ artinya belum lama terjadi dan masih jadi bahan pembicaraan di masyarakat.

3. Unik. 

Suatu peristiwa diliput karena punya unsur keunikan, kekhasan, atau tidak biasa. Orang digigit anjing, itu biasa. Tetapi, orang mengigit anjing, itu unik dan luar biasa.

4. Asas Kedekatan (proximity).

Suatu peristiwa yang terjadi dekat dengan kita (khalayak media), lebih layak diliput ketimbang peristiwa yang terjadi jauh dari kita. Kebakaran yang menimpa sebuah pasar swalayan di Jakarta tentu lebih perlu diberitakan ketimbang peristiwa yang sama tetapi terjadi di Ghana, Afrika.

“Kedekatan” itu tidak harus berarti kedekatan fisik atau kedekatan geografis. Ada juga kedekatan yang bersifat emosional. Agresi Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, misalnya, secara geografis jauh dari kita, tetapi secara emosional tampaknya cukup dekat bagi khalayak media di Indonesia.

5. Asas Keterkenalan (prominence). 

Nama terkenal bisa menjadikan berita. Pejabat, artis, penyanyi terkenal, adalah orang-orang yang biasa menjadi sumber berita.

6. Magnitude. 

Mendengar istilah magnitude, mungkin mengingatkan Anda pada gempa bumi. Benar. Magnitude ini berarti “kekuatan” dari suatu peristiwa.

Dalam konteks peristiwa untuk diliput, sebuah aksi demonstrasi yang dilakukan 10.000 buruh, tentu lebih besar magnitude-nya ketimbang demonstrasi yang cuma diikuti 100 buruh.

7. Human Interest. 

Suatu peristiwa yang menyangkut manusia, selalu menarik diliput. Mungkin sudah menjadi bawaan kita untuk selalu ingin tahu tentang orang lain. Apalagi yang melibatkan drama, seperti: penderitaan, kesedihan, kebahagiaan, harapan, perjuangan, dan lain-lain. Topik-topik kemanusiaan semacam ini biasanya disajikan dalam bentuk feature.

8. Unsur konflik. 

Konflik, seperti juga berbagai hal lain yang menyangkut hubungan antar-manusia, juga menarik untuk diliput.

9. Trend. 

Sesuatu yang sedang menjadi trend atau menggejala di kalangan masyarakat, patut mendapat perhatian untuk diliput media.

Pengertian trend adalah sesuatu yang diikuti oleh orang banyak, bukan satu-dua orang saja. Misalnya, suatu gaya mode tertentu yang unik, perilaku kekerasan antar warga masyarakat yang sering terjadi, tawuran antarpelajar, dan sebagainya.

Demikian Teknik Reportase atau cara dan proses peliputan berita. (http://www.komunikasipraktis.com).*

» Thanks for reading: Teknik Reportase Peliputan Berita   edit post
Previous
« Prev Post
Komunikasi Praktis Updated at: Monday, April 15, 2013

0 comments:

Post a Comment

Komentar Spam dan yang menyertakan alamat blog atau link aktif tidak akan muncul.

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright © Komunikasi Praktis. All rights reserved. New Johny Wuss Template by Contoh Blog & Maskolis
Web Partners: Romeltea Media - Blog Romeltea - Risalah Islam - Info Bandung. Member of BATIC Media Network